Butik Muslim | Butik Busana Muslim

Tampil Trendi dan Syar'i dengan Butik Muslim

Latest Post

Siapakah dia? Sungguh mulia akhlaknya? Sempurna sekali ibadahnya? Bolehkah aku melamarnya? Bolehkah aku menikah dengannya? Begitulah keadaan di zaman saat ini, banyak sekali pertanyaan yang terlintas dalam hati seorang akhwat ketika dirinya merasakan getaran cinta didalam hatinya, namun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, maka timbulah sebuah pertanyaan dalam indahnya islam, bolehkah seorang akhwat mengajukan atau menawarkan dirinya (melamar) untuk menikah dengan seorang lelaki ?

Islam adalah agama yang sangat sempurna, sudah menjadi hal yang lumrah ketika ada seorang akhwat menawarakan dirinya kepada seorang lelaki untuk menikah. Sebagaimana dalam firman Allah : surat al-Qashash ayat 27 disebutkan:

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِين

“Berkatalah Dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku Termasuk orang- orang yang baik.” Dalam ayat ini disebutkan bahwa nabi Syu’aib menawarkan anak gadisnya kepada Nabi Musa.

Menikah adalah sesuatu yang bisa mempertemukan dua insan menjadi satu bentuk padu. Dalam pernikahan kita mesti tahu bagaimana kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Maka dari itu yang harus kita lakukan sebelum menikah adalah mempunyai kematangan serta kesiapan lahir maupun batin.

Seorang akhwat akan menjadi sebuah permata indah nan elok jika ia bisa menjaga dirinya dalam ketaatan kepada Allah. Tetapi saat dirinya mempunyai hasrat ingin menikah namun tak kunjung datang seorang pangeran pergi menuju k erumahnya, maka boleh baginya menawarkan diri untuk melamar seorang lelaki sesuai dengan syari’at dan ketentuan yang sudah ada dalam dienul islam. Sebagaimana siti khodijah yang saat itu menawarkan dirinya ingin menikah dengan nabi Muhammad SAW.

Pertemuan dengan Muhammad menerbitkan kembali impiannya yang lama dilupakan. Kehadirannya membisikkan masa depan yang lebih baik bagi diri, bahkan bangsanya. Awalnya, ia ragu karena usia yang terpaut jauh. Tetapi, semakin lama ia bertambah yakin. Perbedaan usia tak seharusnya menjadi halangan.

Ia meyakini keutamaan dan keindahan akhlak pemuda yang kelak menjadi Rasul Allah. Keyakinan itu menguapkan keraguannya serta menumbuhkan keberanian dan keteguhan. Kemasyhuran Muhammad di Mekkah kala itu, sampai kepada Khadijah yang merupakan saudagar kaya raya. Kemudian Ibunda Khadijah membentuk kerjasama dagang dengan Nabi Muhammad.

Ia meminta karyawannya yang bernama Maisarah -seorang pria- untuk mengawasi dan mengikuti semua kehendak Muhammad serta tidak boleh menolak semua perintahnya. Agar terlihat sifat asli dan kepribadiannya.

Karena jika Maysaroh membantah perintah, ide, gagasan Muhammad, bisa jadi watak laki-laki itu tidak akan nampak, bisa jadi Muhammad bin Abdullah tampak baik karena usulan dan masukan Maisarah.

Sepulang perjalanan dagang dari Syria, Maisarah melaporkan segala apa yang ia lihat dari sosok Muhammad. Akhirnya, ia yakin bahwa pemuda itu adalah laki-laki yang tepat. Kemudian Khadijah meminta bantuan sahabatnya, Nafisah binti Munabbih untuk menemui Muhammad al-Amin agar mau menikahinya.

Sungguh Khadijah wanita jenius, ia tahu siapa orang yang tepat untuk diserahkan urusan ini. Kecerdasan Nafisah menjaga martabat Khadijah sebagai wanita dan membesarkan hati Muhammad sebagai pria. dan pada Akhirnya, mereka menikah dan kisah cinta keduanya dicatat sebagai sejarah sepasang manusia terbaik.

Gayung pun bersambut, Muhammad menerima lamaran Khadijah. Melalui pamannya Abu Thalib, Nabi melangsungkan lamaran resmi untuk pernikahan.

Sungguh tidak ada yang lebih melegakkan dari rasa cinta yang tersampaikan dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari cinta yang diterima”.

Dalam hadits juga dikatakan : Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah! Apakah baginda membutuhkan daku?

Putri Anas yang hadir dan mendengarkan perkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri & rasa malu,“Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya: “Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!”(HR Bukhari).

Dalam kitab Fathul Bari dan Kitab Tafsir telah diterangkan bahwa perempuan yang menawarkan diri itu adalah Khaulah binti Hakim, dan ada yang mengatakan Ummu Syarik atau Fathimah binti Syuraih. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa perempuan itu adalah Laila binti Hathim, Zainab binti Khuzaimah, dan Maimunah bintul Harits.

Dari hadits tentang seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ini,” kata Ibnu Hajar, “Dapat disimpulkan bahwa barangsiapa dari kaum perempuan yang ingin menikah dengan orang yang lebih tinggi darinya, tidak ada yang harus dirasakan malu sama sekali. Apalagi kalau niatnya baik dan tujuannya benar. Katakanlah, umpamanya karena lelaki yang ingin dia tawarkan itu mempunyai kelebihan dalam soal agama, atau karena rasa cinta yang apabila didiamkan saja dikhawatirkan dapat membuatnya terjerumus pada hal-hal yang dilarang.

Sahabat Butik Muslim, yuk buat para akhwat niatkan ikhlas karena allah, jika sang pangeranmu belum juga berkunjung datang ke rumahmu, ungkapkanlah melalui walimu maka walimu yang akan menyampaikan niatanmu itu, dan serahkan serta libatkan semuanya kepada sang maha cinta. jodoh ga akan pernah tertukar sama halnya seperti bunga yang memekar yang tidak akan pernah tertukar dengan kecantikannya, karena menawarkan diri itu lebih mulia daripada tersiksa khamer asmara.

Wallahu’alam. [] (Ari Putra Utama, ariputrautama67@gmail.com)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَتُبَاشِرُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

Janganlah seorang istri mendeskripsikan sosok dan sifat wanita lain di depan suaminya, seakan ia langsung melihatnya.” (HR. Muslim no. 5240-5241, Abu Dawud no. 2150, Ahmad I/387, 438 dan 443)

Dalam Fathu al-Bari (91240) dinyatakan bahwa hikmah di balik larangan menceritakan wanita lain di depan suami adalah dikhawatirkan seorang suami kemudian merasa tertarik dengan perempuan yang digambarkan tersebut lalu mendorong untuk menceraikan istrinya atau terpesona dengan perempuan yang diceritakan. Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ … ﴿١٤

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak.” (QS. Ali-‘Imran: 14 )

Di dalam realitanya, seorang istri terkadang tanpa sengaja menceritakan sosok wanita yang dikenalnya dengan kebaikannya di hadapan suaminya.

Ada kisah nyata tentang seorang istri yang memiliki sahabat karib. Dia sering menceritakan kebaikan wanita tersebut tentang kecantikannya, ciri-cirinya, dan memuji sifatnya. Akhirnya, sang suami tertarik dan terpesona dengan sahabatnya itu hingga ia menikahinya. Suaminya seolah tidak peduli dengan perasaan istrinya. Dan hari-hari berlalu dengan cepat, kini temannya itu telah menjadi istri suaminya, setelah ia dicerai.

Ada pula kisah senada yang terdapat dalam kitab Tuhfatul ‘Arus karya at-Tijani yang dinukil dari kitab an-Naqa`ish, ia bercerita, “Ma’bad al-Sulaithi mempunyai istri bernama Hamidah dari keluarga Bani Rizam bin Malik bin Hanzhalah. Ia sangat cantik mempesona, sedang suaminya (Ma’bad) termasuk tentara yang dikirim al-Hajjaj bin Yusuf menuju Khurasan. Ia menceritakan kecantikan istrinya di tengah para prajurit dan menampakan sangat rindunya padanya. Bahkan, ia pernah berniat hendak meninggalkan pasukannya. Oleh karena cerita tersebut, ada seseorang bernama Hauth bin Sinan, salah seorang dari Bani al-Atik yang langsung jatuh hati padanya (Hamidah).

Ia pun segera berkata kepada Ma’bad, “Saya akan bertolak ke Basrah.”Ma’bad berkata “Saya ingin menitipkan surat untuk istriku, Hamidah.” Ketika Hauth telah sampai di tempat Hamidah dan hendak menyerahkan surat titipan suaminya, Hauth berkata, “Saya tidak akan memberikan surat ini, kecuali langsung kepada Hamidah,” Kemudian muncullah Hamidah, Hauth kemudian berbicara padanya. Kemudian menanamkan panah asmaranya ke hati Hamidah. Ia pun terus berusaha menundukkan hati Hamidah dengan berbagai cara, yang akhirnya ia pun luluh.

Akhirnya, Hamidah berada di bawah kekuasaan Hauth selama satu tahun. Hal itu diketahui oleh keluarganya, sedangkan ia dalam keadaan hamil. Lalu, ‘Abdurrahman bin ‘Ubaid al-Absi membawanya ke Mahkamah (ia adalah polisi al-Hajjaj), kemudian ia dihukum rajam.

Mengenai hal tersebut,  seorang penyair bersenandung tentang  istri Ma’bad al-Sulaithi yang begitu memikatnya. Ia begitu kagum padanya sehingga tidak mengkhawatirkan marabahaya.

Kisah di atas, kiranya sebagai cermin, tidak hanya untuk wanita, tetapi kaum pria pun selayaknya tidak mudah mengumbar lisannya dalam menceritakan hal ihwal istrinya kepada sesama laki-laki karena hal tersebut bisa menyulut fitnah.

Di sisi lain, setan memang mengambil kesempatan besar dalam memperbesar api fitnah di antara laki-laki dan wanita. Mungkin awalnya biasa saja, tetapi karena seringnya mendengar cerita yang mengagumkan dan seakan penuh pesona maka bisa membuat hati penasaran dan gusar. Hingga terjadilah apa yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Cinta terkadang menjerumuskan seseorang pada dosa, lebih–lebih ketika hati kosong dari mencintai Allah ‘Azza  wa Jalla sebagaimana penyakit mabuk asmara yang lebih popular dengan al-‘isyq atau cinta yang berlebih–lebihan. Dan wanita yang memiliki paras cantik atau tampilan menarik bisa membuat lelaki tergoda. Begitu pula sebaliknya, pria tampan mampu membuat kaum hawa terfitnah ketika keduanya tak menjaga pandangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat : “Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar. Lidah (lisan) zinanya adalah berbicara. Tangan zinanya adalah memegang. Kaki zinanya adalah melangkah. Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan hal itu atau mendustakannya).”(HR. Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas dan Muslim dari Abu Hurairah)

Sahabat Butik MuslimSemoga cerita di atas memberi sebuah hikmah bahwa setiap insan beriman harus ekstra hati-hati dalam bermuamalah dengan pasangannya dan senantiasa berupaya menjaga sesuatu yang memang perlu dirahasiakan.

- "Fitnah Kaum Hawa", Isruwanti Ummu Nashifa (Artikel Muslimah)

Referensi :
  • Kado Pengantin, Majdi Muhammad asy-Syahawi, ‘Aziz Ahmad al-Aththar, Pustaka Arafah, Solo, 2006.
  • Majalah Akhwat, No. 6/1431 H.
  • EQS, Energi Quran Sunnah, Sumayyah Rahmadhan Ahmad, Multazam, Solo, 2013.


Butik Muslim - Berhias, satu kata ini biasanya amatlah identik dengan wanita. Bagaimana tidak, wanita identik dengan kata cantik. Guna mendapatkan predikat cantik inilah, seorang wanita pun berhias. Namun tahukah engkau wahai saudariku muslimah, bahwa Islam telah mengajarkan pada kita bagaimana cara berhias yang syar’i bagi seorang wanita? Sungguh Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak sepenuhnya melarang seorang wanita ‘tuk berhias, justru ia mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan, apalagi merendahkan martabat wanita itu sendiri.

Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, sesungguhnya Allah ta‘ala berfirman

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31).

Dari ayat di atas, tampaklah bahwa kebolehan untuk berhias ada pada laki-laki dan wanita. Namun ketahuilah saudariku, ada sisi perbedaan pada hukum sesuatu yang digunakan untuk berhias dan keadaan berhias antara kedua kaum tersebut. Dalam bahasan ini, kita hanya mendiskusikan tentang kaidah berhias bagi wanita.

Larangan Tabarruj

Adapun kaidah pertama yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak berhias adalah hendaknya ia menghindari perbuatan tabarruj. Tabarruj secara bahasa diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Di antara maknanya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan. Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” (Fathul Qadiir karya asy- Syaukani).

Allah ta‘ala berfirman (yang artinya),

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu …” (QS. Al-Ahzaab, 33: 33).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa‘di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Arti ayat ini: janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini dalam rangka mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya” (Taisiirul Kariimir Rahmaan karya Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa‘di).

Memperhatikan Masalah Aurat

Kaidah kedua yang hendaknya engkau perhatikan wahai saudariku, seorang wanita yang berhias hendaknya ia paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan. Aurat sendiri adalah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup, atau setiap apa yang dirasa memalukan apabila nampak, atau apa yang ditutupi oleh manusia karena malu, atau ia juga berarti kemaluan itu sendiri (al-Mu‘jamul Wasith).

Lalu, mana saja anggota tubuh wanita yang termasuk aurat? Pada asalnya secara umum wanita itu adalah aurat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).

Namun terdapat perincian terkait aurat wanita ketika ia di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, di hadapan wanita lain, atau di hadapan mahramnya.

Adapun aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Hal ini sudah merupakan ijma‘ (kesepakatan) para ulama. Hanya saja terdapat perbedaan pendapat diantara ulama terkait apakah wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat jika di hadapan laki-laki non mahram.

Sedangkan aurat wanita di hadapan wanita lain adalah anggota-anggota tubuh yang biasa diberi perhiasan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

Tidak boleh seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan tidak boleh seorang wanita melihat aurat wanita lainnya” (Hadits shahih Riwayat Muslim, dari Abu Sa‘id al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu).

Syaikh al-Albani mengatakan, “Sedangkan perempuan muslimah di hadapan sesama perempuan muslimah maka perempuan adalah aurat kecuali bagian tubuhnya yang biasa diberi perhiasan. Yaitu kepala, telinga, leher, bagian atas dada yang biasa diberi kalung, hasta dengan sedikit lengan atas yang biasa diberi hiasan lengan, telapak kaki, dan bagian bawah betis yang biasa diberi gelang kaki. Sedangkan bagian tubuh yang lain adalah aurat, tidak boleh bagi seorang muslimah demikian pula mahram dari seorang perempuan untuk melihat bagian-bagian tubuh di atas dan tidak boleh bagi perempuan tersebut untuk menampakkannya.”

Adapun tentang batasan aurat seorang wanita di hadapan mahramnya, secara garis besar ada dua pendapat ulama yang masyhur (populer) tentang batasan ini. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah sama dengan aurat wanita di hadapan wanita lain, yakni semua bagian tubuh kecuali yang biasa diberi perhiasan.

Penulis mencukupkan diri dengan pendapat yang lebih rajih (kuat) dari Syaikh al-Albani bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki mahramnya adalah sama sebagaimana aurat wanita di hadapan wanita lain, yakni seluruh tubuhnya kecuali bagian-bagian yang biasa diberi perhiasan.

Dalilnya adalah firman Allah ta‘ala yang artinya,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakka perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka,atau wanita-wanita mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita." (QS. An-Nuur, 24: 31).

Allahu a‘lam.

Adapun untuk aurat wanita (istri) di hadapan suaminya, maka ulama sepakat bahwa tidak ada aurat antara seorang istri dan suami. Dalilnya adalah firman Allah ta‘ala

(وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٢٩) إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٣٠

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.”  (QS. Al-Ma‘aarij, 70: 29-30)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang suami dihalalkan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar memandangi perhiasan istrinya, yaitu menyentuh dan mendatangi istrinya. Jika seorang suami dihalalkan untuk menikmati perhiasan dan keindahan istrinya, maka apalagi hanya sekedar melihat dan menyentuh tubuh istrinya.

Memperhatikan Cara Berhias yang Dilarang

Maka jika sudah tak ada lagi aurat antara suami dan istri, hendaknya seorang wanita (istri) berhias semenarik mungkin di hadapan suaminya. Seorang istri hendaknya berhias untuk suaminya dalam batasan-batasan yang disyari‘atkan. Karena setiap kali si istri berhias untuk tampil indah di hadapan suaminya, jelas hal itu akan lebih mengundang kecintaan suaminya kepadanya dan akan lebih merekatkan hubungan antara keduanya.

Hal ini termasuk diantara tujuan syari‘at. Bukankah salah satu ciri istri yang baik adalah yang menyenangkan ketika dipandang, wahai saudariku? Adapun bentuk-bentuk berhiasnya bisa dengan bermacam-macam. Mulai dari menjaga kebersihan badan, menyisir rambut, mengenakan wewangian, mengenakan baju yang menarik, mencukur bulu kemaluan, dll.

Namun yang hendaknya dicamkan seorang istri adalah hendaknya ia berhias dengan sesuatu yang hukumnya mubah (bukan dari bahan yang haram) dan tidak memudharatkan. Tidak diperbolehkan pula untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:
  • Menyambung rambut (al-washl). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Menato tubuh (al-wasim), mencukur alis (an-namsh), dan mengikir gigi (at-taflij). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Mengenakan wewangian bukan untuk suaminya (ketika keluar rumah). Baginda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.” (Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu)
  • Memanjangkan kuku. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Berhias menyerupai kaum lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.” (Riwayat Bukhari). Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi.
Wahai Saudariku, sungguh Allah ta‘ala yang mensyari‘atkan hukum-hukum dalam Islam lebih mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi para hamba-Nya dan Dia-lah yang mensyari‘atkan bagi mereka hukum-hukum agama yang sangat sesuai dengan kondisi mereka di setiap zaman dan tempat. Maka, sudah sepantasnya bagi kita wanita muslimah untuk taat lagi tunduk kepada syari‘at Allah, termasuk di dalamnya aturan untuk berhias.

***

Artikel Buletin Zuhairah, Penulis: Nurul Dwi Sabtia S.IP, Murajaah: Ustadz Adika Minaoki.
(Sumber : muslimah.or.id)

Sahabat Butik Muslim yang semoga dirahmati oleh Allah SWTtahukah sahabat siapa syahidah pertama dalam Islam? Beliau adalah Sumayyah binti Khayyat, budak perempuan milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir lalu keduanya menetap di Mekah. Oleh karena statusnya sebagai budak dan suaminya sebagai pendatang maka tak ada satu pun kabilah yang bersedia membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Beliau hidup sebatang kara sehingga aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah saat itu menyudutkan posisi beliau.

Kala itu, ketika Yasir tiba di Mekah, beliau menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup di bawah kekuasaan Abu Hudzaifah. Akhirnya beliau dinikahkan dengan budak Abu Hudzaifah bernama Sumayyah. Beliau hidup tenteram bersamanya. Tak lama kemudian, lahirlah ‘Ammar dan ‘Ubaidullah dari pernikahan keduanya.

Tatkala ‘Ammar hampir dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berpikirlah ‘Ammar bin Yasir sebagaimana yang dipikirkan oleh penduduk Mekah. Kesungguhan beliau dalam berpikir dan lurusnya fitrah beliau, akhirnya menggiring beliau untuk memeluk dienul Islam.

‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan kelezatan iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan peristiwa yang beliau alami, yaitu pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ‘Ammar menawarkan kepada kedua orang tuanya untuk mengikuti agama yang dibawa Muhammad. Gayung bersambut, Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut.  Bahkan keduanya mengumumkan keislamannya secara terang-terangan. Oleh karena keduanya merespon positif dien ini dengan segera maka Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Sejarah agung bagi Sumayyah bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar Islam terbit untuk pertama kalinya.

Keislaman keluarga Yasir lambat laun diketahui oleh Bani Makhzum karena mereka tidak memungkiri bahwa mereka telah mengikuti agama Muhammad. Bahkan mereka mengikrarkan keislamannya dengan yakin sehingga orang-orang kafir menentang dan memusuhi mereka.

Bani Makhzum segera menangkap Yasir beserta keluarganya dan menyiksa mereka dengan berbagai macam siksaan agar mereka murtad dari agamanya. Bani Makhzum menjemur mereka di padang pasir tatkala matahari sangat terik dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat lalu menaburinya dengan pasir yang sangat panas. Kemudian mereka meletakkan sebongkah batu yang sangat berat di atas dada Sumayyah. Akan tetapi, tidaklah terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan ‘Ahad… Ahad…’ . Beliau mengulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, ‘Ammar, dan Bilal ketika mereka disiksa dengan siksaan yang keji.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut tengah disiksa dengan kejam maka beliau menengadah ke langit seraya berseru,

اِصْبِرَا آلَ يَاسِرٍ ،فَإِنَّ مَوْعِدَكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ

Bersabarlah wahai kelurga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak bab Mengenal Sahabat (III/383).

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sehingga beliau bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Beliau mengulang-ulang dengan lantang, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.

Begitulah, Sumayyah telah mencicipi manisnya iman sehingga kematian dalam rangka memperjuangkan akidah adalah hal yang remeh bagi beliau. Hatinya telah dipenuhi dengan keagungan Allah Jalla Jalaluh sehingga beliau menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang zalim. Mereka tak akan kuasa menggoyahkan keimanan dan keyakinan Sumayyah sedikit pun.

Di kala Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah menancapkan dalam dirinya untuk meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama suaminya.

Tatkala orang-orang kafir telah putus asa untuk mengeluarkan Sumayyah dari agama Islam maka musuh Allah, Abu Jahal melampiaskan keberangannya dengan menusukkan sangkur yang ada di genggamannya kepada Sumayyah. Maka keluarlah nyawa beliau dari raganya yang beriman lagi suci  sehingga beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan teladan yang mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan semua yang beliau miliki dan menganggap ringan kematian dalam rangka mempertahankan imannya. Beliau telah mengorbankan jiwanya yang berharga demi meraih keridhaan Rabbnya, “Dan mendermakan jiwa adalah puncak kedermawanan tertinggi.

Subhanallah, demikian kisah singkat sosok Sumayyah binti Khayyat, seorang syahidah pertama didalam Islam. Semoga kisah ini dapat menambah khasanah Islam sahabat Butik Muslim.

***

Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hlm. 169-171. (Sumber : muslimah.or.id)

Sahabat Butik Muslim, penampilan dan pribadi yang baik bisa jatuh seketika karena aroma parfum alami yang keluar dari tubuh. Yup! Parfum alami yang dimaksud tidak lain adalah bau badan. Bau badan tidak hanya membuat seorang muslimah kehilangan rasa percaya diri, tetapi juga mengganggu indra penciuman orang lain. Seorang muslimah bisa saja tidak membuat kesalahan apa pun, namun ia dijauhi oleh orang lain karena satu masalah ini. Banyak muslimah mengira bau badan ini cukup diselesaikan dengan parfum. Tetapi mari kita renungkan lagi bahwa ada dalil yang melarang seorang muslimah untuk mengenakan parfum di luar rumah. Jadi, bagaimana menyiasati bau badan namun tetap dalam koridor syari’at?

Berikut ini ulasan singkat mengenai Tips Muslimah Siasati Bau Badan yang di. Yuk simak penjelasanya. 

Kita lihat apa penyebabnya

Keringat dihasilkan oleh kelenjar keringat yang bernama kelenjar ekrin dan apokrin. Kelenjar ekrin terdapat di hampir seluruh permukaan kulit. Kelenjar ekrin sudah ada sejak kecil di mana keringat yang dihasilkannya tidak hanya berfumgsi sebagai alat pengeluaran sisa metabolisme tubuh namun juga berguna untuk mengatur suhu tubuh. Kelenjar apokrin terletak di daerah ketiak, payudara, daerah anus dan kemaluan. Kelenjar apokrin akan berfungsi aktif setelah remaja dan keringat yang dihasilkan dipengaruhi oleh rangsangan emosi. Keringat apokrin mengandung banyak lemak dan protein, yang apabila diuraikan oleh bakteri akan menimbulkan bau yang tidak enak. Bau inilah yang kemudian dikenal sebagai bau badan.

Bagaimana mengontrol bau badan?

Ada banyak cara untuk mengatasi bau badan. Cara yang termudah adalah mandi 2 kali sehari untuk menghilangkan keringat dan bakteri. Mengingat kebersihan adalah musuh utama bakteri, pastikan seluruh tubuh terutama ketiak dan lipatan tubuh dibersihkan dengan optimal.

Membersihkan rambut ketiak baik dengan dicukur atau dicabut -namun dicabut merupakan cara yan terbaik- akan membantu mengurangi bau badan. Hal ini disebabkan rambut ketiak dapat menahan keringat dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi bakteri untuk melakukan proses penguraian. Bedak talk atau bedak tabur juga bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi bau badan. Bedak mampu menyerap keringat sehingga bakteri tidak bisa menguraikannya.

Cara yang paling umum digunakan adalah menggunaan deodorant dan antiperspirant. Deodoran mengandung antiseptik yang menekan pertumbuhan bakteri, sedangkan antiperspirant mengandung bahan yang dapat mengurangi keringat yang keluar. Sekarang tersedia banyak produk yang sekaligus mengandung deodorant dan antiperspirant. Hal yang perlu diperhatikan adalah memilih produk yang cocok dan aman bagi kulit.

Perhatikanlah makanan yang dikonsumsi. Ada beberapa kandungan makanan yang dapat memicu bau badan, misalnya bawang putih dan bawang Bombay. Sebaliknya, perbanyaklah makanan yang dapat mengatasi bau badan secara alamiah misalnya lalapan daun kemangi atau rebusan air daun sirih.

Terkadang tidak disadari

Banyak muslimah yang akan langsung menyadari jika ada yang tidak beres dengan bau badan mereka. Namun, ternyata ada juga muslimah yang tidak sadar bahwa bau badannya bisa mengganggu kenyamanan orang lain. Sebaiknya mintalah pendapat yang jujur dari teman dekat tentang kondisi bau badan, terutama setelah banyak beraktivitas. Dengan demikian, jika memang bau badan bermasalah akan segera bisa diatasi.

Semoga tulisan Tips Muslimah Siasati Bau Badan ini bermanfaat bagi sahabat butik muslim. Selamat mencoba! 

***
Diketik ulang dari Kompas : "Bau Badan, Bumerang bagi Pergaulan", Ummu Abdirrahman (Artikel Muslimah : muslimah.or.id

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget